|

Oleh: Dr Widodo Judarwanto SpA
Jumat, 25 Aug 2006 10:50:40
(Pdpersi, Jakarta - www.pdpersi.co.id)
Asi adalah susu yang terbaik bagi anak. Susu formula
terbaik adalah susu yang cocok dan tidak menimbulkan
gangguan. Bukan karena susu yang disukai, termahal,
terkenal atau yang mengandung berbagai macam
kandungan kecerdasan.
Seorang ibu mendapat advis dari dokter bahwa anaknya
harus memakai susu formula A. Saat mencari susu
tersebut di supermarket mendapat informasi dari
seorang SPG (Sales Promotion Girl) bahwa susu A
mungkin tidak cocok karena tidak bisa menggemukkan
jadi harus dengan susu B. Sesampai di rumah si ibu
mencoba “curhat” pertelepon dengan temannya. Si
teman mengatakan bahwa anaknya bisa gemuk dengan
susu C karena lebih terkenal dan lebih mahal. Dengan
perasaan bingung si Ibu mencoba konsultasi ke dokter
lainnya ternyata advisnya berbeda lagi, anak harus
minum susu D. Akhirnya si ibu malah menjadi bingung
mendapat informasi yang sangat berbeda ini.
Orang tua sering dihadapkan pada masalah pemilihan
jenis susu formula yang tepat dan baik untuk bayi.
Masalah ini diperumit dengan semakin banyaknya susu
formula yang beredar di pasaran. Informasi tentang
pemahaman pemilihan jenis susu semakin banyak
didapatkan, baik dari dokter, sales promotion di
supermarket, iklan di media cetak dan elektronik,
brosur atau dari pengalaman ibu lainnya. Informasi
yang beragam inilah yang membingungkan orang tua,
karena sering sangat berbeda dan berlawanan. Contoh
tersebut menunjukkan bahwa kesulitan pemilihan jenis
susu formula banyak dialami oleh para orang tua.
Pemilihan susu formula yang tidak tepat akan
mengakibatkan gangguan beberapa fungsi dan organ
tubuh seperti diare, sering batuk, sesak dan
sebagainya. Gangguan sistem tubuh tersebut ternyata
dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan serta
mempengaruhi dan memperberat gangguan perilaku anak.
ASI adalah merupakan makanan terbaik untuk bayi dan
anak. Tetapi menjadi masalah bila anak tidak dapat
mengkonsumsi ASI dengan cukup karena berbagai
kondisi dan keadaan. Penggunaan PASI (Pengganti ASI)
menjadi alternatif yang tidak dapat dihindarkan.
Pemilihan susu terbaik bagi anak harus dilakukan
secara cermat dan teliti. Susu merupakan makanan
bayi dan anak yang dikonsumsi setiap hari dalam
jumlah banyak dan jangka panjang. Bila susu tersebut
tidak cocok bisa menimbulkan gangguan tumbuh kembang
yang terjadi terjadi terus menerus dalam jangka
panjang.
SUSU FORMULA TERBAIK
Secara umum prinsip pemilihan susu yang tepat dan
baik untuk anak adalah susu yang sesuai dan bisa
diterima sistem tubuh anak. Susu terbaik tidak harus
susu yang disukai bayi atau susu yang harganya
mahal. Bukan juga susu yang banyak dipakai oleh
kebanyakan bayi atau susu yang paling laris. Karena,
susu formula dengan penjualan terbesar yang beredar
di setiap negara selalu beredar. Di negara Indonesia
misalnya susu formula merek A, di negara Amerika
serikat merek B, sedangkan di Belanda mungkin merek
C.
Susu terbaik harus tidak menimbulkan gangguan
saluran cerna seperti diare, muntah atau kesulitan
buang air besar. Susu yang terbaik juga harus tidak
menimbulkan gangguan lainnya seperti batuk, sesak,
gangguan kulit dan sebagainya. Penerimaan terhadap
susu pada setiap anak sangat berbeda. Anak tertentu
bisa menerima susu A, tetapi anak lainnya bila minum
susu A terjadi diare, muntah atau malah sulit buang
air besar.
Semua susu formula yang beredar di Indonesia dan di
dunia harus sesuai dengan Standard RDA
(Recomendation Dietery Allowence). Standar RDA untuk
susu formula bayi adalah jumlah kalori, vitamin dan
mineral harus sesuai dengan kebutuhan bayi dalam
mencapai tumbuh kembang yang optimal. Dengan kata
lain penggunaan apapun merek susu sapi formula yang
sesuai usia anak selama tidak menimbulkan gangguan
fungsi tubuh adalah susu yang terbaik untuk anak
tersebut.
Susu yang paling enak dan disukai bukan merupakan
pertimbangan utama pemilihan susu. Meskipun susu
tersebut disukai anak, tetapi bila menimbulkan
banyak gangguan fungsi dan sistem tubuh maka akan
menimbulkan banyak masalah kesehatan bagi anak.
Tetapi sebaliknya bila gangguan saluran cerna anak
baik dan tidak terganggu maka nafsu makan atau minum
susu pada anak tidak akan terganggu.
Harga susu yang mahal dan merek yang terkenal juga
bukan merupakan jaminan bahwa susu tersebut yang
terbaik. Keterkenalan merek susu formula tertentu di
suatu negara atau daerah sebenarnya lebih karena
pertimbangan keberhasilan strategi pemasaran dan
penyediaan barang. Hal ini dapat dillihat bahwa susu
dengan penjualan tertinggi di negara satu dengan
negara lainnya di dunia sangat berbeda dan
bervaiasi.
Penambahan AA, DHA, Spingomielin pada susu formula
sebenarnya tidak merupakan pertimbangan utama
pemilihan susu yang terbaik. Penambahan zat yang
diharap berpengaruh terhadap kecerdasan anak memang
masih sangat kontroversial. Banyak penelitian masih
bertolakbelakang untuk menyikapi pendapat tersebut.
Beberapa penelitian menunjukkan pemberian AA dan DHD
pada penderita prematur tampak lebih bermanfaat.
Sedangkan pemberian pada bayi cukup bulan (bukan
prematur) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna
mempengaruhi kecerdasan. Sehingga WHO hanya
merekomendasikan pemberian AA dan DHA hanya pada
bayi prematur saja.
Penjualan susu formula adalah merupakan bisnis
perdagangan yang sangat besar dan sangat
menggiurkan. Setiap hari kita disuguhi promosi susu
formula yang demikian gencar. Semua produsen susu
berlomba-loba mengangkat isu kecerdasan dengan
mengandalkan AA, DHA, Spingomielin dan sebagainya.
Karena sangat gencarnya promosi “susu kecerdasan”
ini, banyak orangtua menolak bila susu anaknya tidak
mengandung AA dan DHA. Fenomena ini merubah perilaku
produsen untuk selalu menambah zat kecerdasan pada
semua produk susu dan makanan anak. Sehingga
akhirnya penambahan kandungan AA dan DHA kesannya
hanya untuk kepentingan bisnis belaka.
Penambahan prebiotik atau sinbiotik untuk
memperbaiki saluran cerna bukanlah yang utama.
Selama bahan dasar susu formula tersebut bisa
diterima saluran cerna, maka penambahan kandungan
tersebut tidak terlalu bermanfaat. Sebaliknya
meskipun terdapat zat tersebut, tetapi bila beberapa
kandungan dalam susu sapi tidak bisa diterima
saluran cerna juga tidak akan memperbaiki keadaan.
Bila terdapat masalah gangguan saluran cerna
berkepanjangan yang penting adalah mencari jenis
susu atau makanan lainnya yang dapat mengganggu
saluran cerna tersebut.
MENGAPA SUSU FORMULA TIDAK COCOK
Pengaruh ketidak cocokan terhadap susu formula bisa
disebabkan karena reaksi simpang makanan bisa karena
reaksi alergi atau reaksi nonalergi. Alergi susu
sapi adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai
banyak organ dan sIstem tubuh yang ditimbulkan oleh
alergi terhadap susu sapi. Reaksi hipersensitif
terhadap protein susu sapi dengan keterlibatan
mekanisme sistem imun. Alergi terhadap susu formula
yang mengandung protein susu sapi merupakan suatu
keadaan dimana seseorang memiliki sistem reaksi
kekebalan tubuh yang abnormal terhadap protein yang
terdapat dalam susu sapi. Sistem kekebalan tubuh
bayi akan melawan protein yang terdapat dalam susu
sapi sehingga gejala-gejala reaksi alergi pun akan
muncul. Reaksi non alergi atau reaksi simpang
makanan yang tidak melibatkan mekanisme sistem imun
dikenal sebagai intoleransi. Intoleransi ini bisa
terjadi ketidakcocokan terhadap laktosa, gluten atau
jenis lemak tertentu.
Reaksi simpang makanan tersebut terjadi karena
ketidakcocokan beberapa kandungan didalam susu
formula. Bisa terjadi karena ketidakcocokan terhadap
kandungan protein susu sapi (kasein), laktosa,
gluten, zat warna, aroma rasa (vanila, coklat,
strawberi, madu dll), komposisi lemak, kandungan
DHA, minyak jagung, minyak kelapa sawit dan
sebagainya.
Alergi susu sapi adalah alergi terhadap kandungan
protein tertentu yang ada di dalamnya. Banyak
penelitian mengenai alergenitas protein susu sapi.
Terdapat lebih dari 40 jenis protein yang berbeda
dalam susu sapi yang berpotensi untuk menyebabkan
sensitivitas. Kandungan pada susu sapi yang paling
sering menimbulkan alergi adalah lactoglobulin,
selanjutnya casein, lactalbumin bovine serum albumin
(BSA). Analisa Immunoelectrophoretic menunjukkan
bahwa casein berkurang alergenisitasnya setelah
pemanasan sekitar 120 C selama 15 menit, sedangkan
lactoglobulin, lactalbumin berkurang terhadap
pemanasan lebih dari 100C. BSA and gammaglobulin
kehilangan antigenisitasnya pada suhu antara 70C –
80C.
GEJALA REAKSI ALERGI SUSU SAPI ATAU REAKSI SIMPANG
SUSU FORMULA
Gangguan akibat ketidakcocokan susu formula bisa
timbul karena reaksi cepat atau timbulnya gejala
kurang dari 8 jam. Pada reaksi lambat atau gejala
baru timbul setelah lebih dari 8 jam, atau kadang
setelah minum susu 5 atau 7 hari baru timbul
keluhan. Tanda dan gejala ketidak cocokan susu
formula atau alergi susu hampir sama dengan alergi
makanan. Gangguan tersebut dapat mengganggu semua
organ tubuh terutama pencernaan, kulit, saluran
napas dan organ lainnya.
Tabel 1. Kondisi klinis yang dapat diperberat karena
reaksi alergi atau reaksi simpang susu formula
* GANGGUAN SALURAN CERNA: Sering muntah/gumoh,
kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering
“ngeden /mulet”, sering rewel, gelisah atau kolik
terutama malam hari. Sering buang air besar (> 3
kali perhari), tidak BAB tiap hari, Feses berwarna
hijau, hitam, berbau, sangat keras, cair atau
berdarah. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol),
Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan,
daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”)
karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut
meningkat.
* Bila gangguan saluran cerna terjadi jangka panjang
akan mengakibatkan : daya tahan tubuh berkurang
sehingga mudah terserang infeksi terutama ISPA
(batuk, pilek, panas, tonsilitis (amandel) berulang
kadang setiap bulan atau lebih)
* Kulit sensitif, sering timbul bintik atau bisul
kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang
tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas
hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan
daerah sekitar rambut sering gatal, disertai
pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran
telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
* Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir
tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna
lebih gelap (biru). Gusi tampak bengkak seperti
tumbuh gigi.
* Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali
terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi
seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk
sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )
* Sesak bayi baru lahir disertai kelenjar thimus
membesar (TRDN/TTNB). BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU
TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS) Bayi usia cukup bulan (9
bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang
belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya
terjadi pada bayi usia kehamilan < 35 minggu) Bayi
seperti ini menurut penelitian beresiko asthma
(sering batuk/bila batuk sering dahak berlebihan
)sebelum usia prasekolah.
* Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak,
kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga
beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau
minum dominan hanya satu sisi bagian payudara.
Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu
minum ASI sering tersedak
* Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata
(belekan) salah satu sisi/kedua sisi.
* Karena pencernaan terganggu bayi sering minum
berlebihan atau sering minta minum berakibat berat
badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun).
* Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering
teraba sumer/hangat. Sering berkeringat (berlebihan)
terutama dahi, daerah rambut meskipun dalam suhu
udara dingin dan menggunakan ac.
* Gangguan hormonal : keputihan/keluar darah dari
vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran
payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil
kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum)
atau papula warna putih
Reaksi simpang makanan seperti ketidakcocokan susu
formula terutama mengganggu sistem saluran cerna.
Gangguan saluran cerna tersebut kadang mengakibatkan
gangguan permeabilitas pada saluran cerna atau leaky
gut. Banyak penelitian terakhir mengungkapkan bahwa
gangguan saluran cerna kronis dengan berbagai
mekanisme imunopatofisiologis dan imunopatobiologis
ternyata dapat mengakibatkan gangguan
neurofungsional otak. Gangguan fungsi otak tersebut
mempengaruhi gangguan perilaku seperti gangguan
konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur,
keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga
memperberat gejala ADHD dan Autis.
Tabel 2. Gangguan perilaku dan motorik (gangguan
neuroanatomis dan neurofisiologis) yang sering
diperberat dan dikaitkan karena reaksi alergi atau
reaksi simpang susu formula
* GANGGUAN NEURO ANATOMIS : Mudah kaget bila ada
suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan
bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus
dan kaku. Breath Holding spell : bila menangis napas
berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir
biru dan tangan kaku. Mata sering juling
(strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG
(EEG normal)
* GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan
badan. Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering
melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak
berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”).
Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang,
sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila
digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi
lebih suka posisi berdiri.
Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun
atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan
badan atas ke belakang, memukul dan membentur
benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering
bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering
kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
* GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI)
gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur
posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara,
tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau
mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang
hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering
terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
* AGRESIF MENINGKAT : pada usia lebih 6 bulan sering
memukul muka atau menarik rambut orang yang
menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau
punggung orang yang menggendong. Sering menggigit
putting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah
usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan
sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke
dua tangan atau kaki ke dalam mulut.
* GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan thd sesuatu
aktifitas bermain, bila diberi cerita bergambar
sering tidak bisa lama memperhatikan. Tidak menyukai
tempat yang sempit seperti box bayi atau ruangan
kamar yang kecil. Sehingga sering minta keluar
ruangan atau halaman luar rumah.
* EMOSI MENINGKAT: sering menangis, berteriak dan
bila minta minum susu sering terburu-buru tidak
sabaran.
* GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI : Pada POLA
PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK,
MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN sesuai usia. Pada
gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik
pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak
duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung
berdiri dan berjalan.
* KETERLAMBATAN BICARA : Tidak mengeluarkan kata umur
< 15 bulan, , kemampuan bicara atau ngoceh-ngoceh
hilang dari yang sebelumnya bisa. Bila tidak ada
gangguan kontak mata, gangguan pendengaran, dan
gangguan intelektual biasanya usia lebih 2 tahun
membaik.
* IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa
berlebihan, lebih dominan berteriak daripada
mengoceh.
* Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku
tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti
ADHD (hiperaktif) dan AUTISME (hiperaktif,
keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi)
BERBAGAI JENIS SUSU FORMULA
Susu sebagai minuman utama pada bayi terdiri dari
ASI, PASI atau susu formula (comercial formula) dan
Non Formula. ASI merupakan makanan bayi yang paling
sempurna, kandungan gizi sesuai kebutuhan untuk
pertumbuhan dan perkembangan yang optimal pada anak.
ASI juga mengandung zat untuk perkembangan
kecerdasan, zat kekebalan (mencegah dari berbagai
penyakit) dan dapat menjalin hubungan cinta kasih
antara bayi dengan ibu. Manfaat bagi ibu dapat
mengurangi perdarahan setelah melahirkan,
mempercepat pemulihan kesehatan ibu, menunda
kehamilan, mengurangi risiko terkena kanker
payudara, dan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi
ibu.
PASI (Pengganti Air Susu Ibu) adalah merupakan
alternatif terakhir bila memang ASI tidak keluar,
kurang atau mungkin karena sebab lainnya. PASI
adalah makanan bayi yang secara tunggal dapat
memenuhi kebutuhan gizi bagi pertumbuhan dan
perkembangan bayi sampai berumur enam bulan. PASI
dapat dikelompokkan menjadi susu formula awal
(starting formula), susu lanjutan (Followup Formula)
.dan susu formula khusus (specific formula).
Starting Formula biasanya diberikan sejak lahir
sebelum usia 6 bulan dan Followup Formula diberikan
di atas usia 6 bulan.
Spesific formula merupakan formula khusus yang
diberikan pada bayi yang mengalami gangguan
malabsorbsi, alergi, intoleransi ataupun penyakit
metabolik. Susu formula khusus ini sangat banyak dan
bervariasi yang berisi formula tertentu bagi keadaan
yang tertentu pula. Diantaranya adalah susu
hidrolisa protein ektensif seperti Pepti junior,
pregestimil, atau yang paling ekstensif seperti
Neocate. Golongan susu tersebut termasuk yang paling
aman karena komposisinya tanpa laktosa, mengandung
banyak lemak MCT (monochain trigliserida) dan
protein susu yang lebih mudah dicerna. Susu formula
khusus ini digunakan untuk penderita alergi susu
sapi, alergi susu kedelai, malabsorspsi dan
sebaginya.
Susu formula khusus lainnya adalah susu hidrolisat
protein parsial, seperti NAN HA atau Enfa HA.
Golongan susu ini biasanya digunakan untuk bayi yang
beresiko alergi atau untuk mencegah gejala alergi
agar tidak semakin memberat dikemudian hari. Untuk
pencegahan alergi biasanya hanya digunakan sejak
lahir hingga usia 6 bulan. Sebenarnya susu ini bukan
digunakan untuk penderita alergi susu sapi. Tetapi
dalam keadaan gejala alergi yang ringan tampaknya
penggunaan susu ini sangat bermanfaat.
Susu formula khusus kedelai atau susu formula soya
adalah susu formula yang mengandung bahan dasar
kedelai sebagai pengganti susu sapi. Susu formula
soya yang saat ini beredar di Indonesia adalah
isomil, nutrisoya, prosobee dan sebagainya. Susu
formula khusus lainnya adalah susu bebas atau rendah
laktosa. Susu formula khusus ini digunakan untuk
penderita intoleransi laktosa.
Non formula, merupakan susu yang sebenarnya tidak
memenuhi syarat sebagai PASI. Contoh susu non
formula adalah susu sapi segar, susu skim atau susu
kental manis. Susu ini komposisinya tidak sesuai
dengan komposisi yang direkomendasikan oleh FDA atau
komposisinya tidak sesuai dengan kebutuhan bayi.
Susu formula sangat berbeda dengan susu sapi murni,
meski bahan baku susu formula dari susu sapi. Dalam
susu formula, ada tambahan nutrisi yang sudah
terukur dan disesuaikan dengan gizi yang dibutuhkan
bayi. Karena itu, pemberian susu formula kepada bayi
harus sesuai dengan kebutuhan bayi dan kandungan
yang telah dianjurkan.
STRATEGI PEMILIHAN SUSU FORMULA
Bagaimana strategi atau langkah yang tepat dalam
melakukan pemilihan susu formula yang terbaik bagi
anak. Langkah awal yang harus dilakukan adalah
menentukan apakah anak mempunyai resiko alergi atau
intoleransi susu sapi. Resiko ini terjadi bila ada
salah satu atau kedua orangtua pernah mengalami
alergi, asma atau ketidak cocokan terhadap susu
sapi. Langkah ke dua, harus cermat dalam mengamati
kondisi dan gangguan yang terjadi pada anak sejak
lahir. Gejala yang harus di amati adalah gejala
gangguan saluran cerna, gangguan perilaku dan
gangguan organ tubuh lainnya sejak bayi lahir
Bila terdapat resiko alergi dan gejala lain seperti
di atas, harus lebih cermat dalam melakukan
pemilihan susu. Kalau perlu lakukan konsultasi lebih
jauh kepada dokter spesialis alergi anak,
gastroenterologi anak atau metabolik dan
endokrinologi anak Cermati gangguan organ tubuh yang
terjadi terus menerus dan terjadi jangka panjang
seperti sering batuk, sesak, diare (buang air besar
> 2 kali perhari), sulit buang air besar. Bila
terjadi sebaiknya harus lebih dicermati apakah
gangguan ini berkaitan karena ketidakcocokan susu
formula.
Sering terjadi overdiagnosis dalam menentukan anak
menderita alergi susu sapi. Sebaiknya jangan terlalu
cepat memvonis alergi susu sapi pada bayi. Reaksi
alergi yang timbul bukan saja terjadi karena susu
formula. Dalam pemberian ASI, diet yang dikonsumsi
ibu juga dapat mengakibatkan gangguan alergi. Dalam
keadaan bayi mengalami infeksi batuk, panas dan
pilek sering mengalami gangguan seperti reaksi
alergi khususnya pada kulit, saluran cerna dan
hipersekresi bronkus (lendir yang berlebihan).
Hal
lain sering terjadi anak divonis alergi susu sapi
padahal sebelumnya penggunaan susu sapi tidak
menimbulkan masalah kesehatan. Alergi susu sapi
biasanya semakin pertambahan usia akan semakin
membaik, bukan sebaliknya. Alergi susu sapi biasanya
terjadi sejak lahir. Bila gejala alergi baru timbul
di atas usia 6 bulan, penyebabnya sangat mungkin
bukan susu sapi. Kita harus mencermati alergi
terhadap makanan lainnya yang biasanya mulai
dikenalkan pada usia tersebut. Penderita alergi
makanan, selain alergi terhadap susu sapi juga
mengalami alergi terhadap makanan tertentu.
Anak
yang mengalami alergi susu sapi, ternyata didapatkan
sekitar 30 – 40% mengalami alergi susu soya
(kedelai). Tetapi susu soya merupakan pilihan
pertama untuk anak alergi susu sapi pada usia di
atas 6 bulan.
Bila anak mengalami alergi susu sapi yang ringan
seperti gangguan kulit dan saluran cerna ringan akan
bisa menerima susu sapi tersebut sekitar usia 1
tahun. Bila mengakibatkan gangguan berat seperti
batuk, asma dan muntah biasanya akan bisa menerima
susu sapi di atas usia 2 hingga 5 tahun.
Bila mencurigai ketidak cocokan susu formula, jangan
terlalu cepat memvonis susu sapi adalah penyebabnya.
Ketidakcocokan susu formula belum tentu hanya karena
kandungan susu sapinya. Gangguan bisa timbul karena
kandungan yang terdapat dalam susu formula seperti
laktosa, gluten, zat warna, aroma rasa (vanila,
coklat, strawberi, madu dll), komposisi lemak,
kandungan DHA, minyak jagung, minyak kelapa sawit
dan sebagainya. Proses pengolahan bahan dasar susu
sapi ternyata juga bisa berpengaruh. Beberapa cara
proses pengolahan susu sapi tertentu dapat
menghilangkan protein tertentu yang dapat
menyebabkan gangguan alergi. Perbedaan ini dapat
diamati dengan perbedaan bau susu formula tersebut.
Susu sapi formula satu dengan yang lainnya kadang
bau ketajaman susu sapinya berbeda.
Penggantian ketidakcocokan susu formula tidak harus
selalu dengan susu soya atau susu hipoalergenik.
Jadi, bila mencurigai ketidak cocokan susu jangan
terlalu cepat mengganti dengan susu soya atau susu
hipoalergi lainnya. Bila gangguannya ringan dengan
penggantian susu sapi formula yang sejenis gangguan
tersebut dapat berkurang. Misalnya, penggantian susu
yang tidak mengandung DHA gangguan kulit bisa
menghilang. Buang air besar yang sulit dengan
pengantian susu sapi tertentu yang tidak mengandung
kelapa sawit gangguannya membaik. Demikian pula
gangguan penderita yang sering batuk, dengan
mengganti susu sapi formula tertentu dapat
mengurangi gangguan itu.
Pemberian susu formula khusus seperti susu soya,
susu peptijunior atau susu hipoalergenik sering
dianggap tidak bergizi dibanding susu formula
lainnya. Sebenarnya secara umum pendapat ini tidak
benar. Setiap susu formula kandungan vitamin,
mineral dan kalorinya adalah sama, sudah sesuai
standar FDA. Harus sesuai dengan kebutuhan anak
menurut usianya. Memang susu tersebut tidak
mengandung AA, DHA, dan ”kandungan kecerdasan”
lainnya. Padahal penambahan kandungan zat tersebut
masih belum terbukti secara klinis. Sedangkan bila
susu formula lainnya tetap dipaksakan maka banyak
gangguan fungsi organ tubuh dan ganggua perilaku
yang dapat terjadi dalam jangka panjang. Hal ini
justru akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan
anak.
Selain ketidakcocokan susu, pertimbangan berikutnya
dalam pemilihan susu adalah masalah harga. Sesuaikan
pemilihan jenis susu dengan kondisi ekonomi
keluarga. Harga susu tidak secara langsung berkaitan
dengan kualitas kandungan gizinya. Meskipun susu
tersebut murah belum tentu kalori, vitamin dan
mineralnya kurang baik. Selama jumlah, jenisnya
sesuai untuk usia anak dan tidak ada gangguan maka
itu adalah susu yang terbaik untuk tumbuh kembang
anak tersebut. Semua susu formula susu yang beredar
untuk bayi dan anak jumlah kandungan kalori, vitamin
dan mineralnya tidak berbeda jauh. Perbedaan harga
tersebut mungkin dipengaruhi oleh penambahan
kandungan AA, DHA dan sebagainya di dalam susu
formula. Pertimbangan lainnya yang penting adalah
mudah didapat, baik dalam hal tempat pembelian dan
penyediaan produk. Berganti-ganti jenis susu untuk
seorang anak tidak harus dikawatirkan selama tidak
ada gangguan penerimaan susu tersebut. Bila tidak
terdapat resiko dan gejala alergi langkah berikutnya
coba susu formula yang sesuai usia anak apapun merek
dan jenisnya. Amati tanda dan gejala yang
ditimbulkan, bila tidak ada keluhan teruskan
pemberian susu tersebut dengan jumlah sesuai yang
dibutuhkan anak.
KESIMPULAN
Secara umum prinsip pemilihan susu yang tepat dan
baik untuk anak adalah susu yang sesuai dan bisa
diterima sistem tubuh anak. Pertimbangan lain adalah
pertimbangan harga susu yang harus disesuaikan
dengan kondisi ekonomi keluarga dan harus mudah
didapatkan di pasaran.
Reaksi simpang makanan yang diakibatkan susu formula
bisa disebabkan karena beberapa komposisi yang
terkandung di dalamnya. Baik berupa reaksi alergi,
intoleransi, atau reaksi simpang lainnya. Reaksi
tersebut dapat mengganggu beberapa organ tubuh dan
perilaku pada anak.
DAFTAR PUSTAKA
1. Crittenden RG, Bennett LE..Cow's milk allergy: a
complex disorder. J Am Coll Nutr. 2005 Dec;24(6
Suppl):582S-91S.
2. Tokodi I, Maj C, Gabor S.[Cycle vomiting syndrome
as a clinical appearance of eosinophilic
gastroenteritis]. Orv Hetil. 2005 Oct
30;146(44):2265-9. Hungarian..
3. Paajanen L, Korpela R, Tuure T, Honkanen J,
Jarvela I, Ilonen J, Knip M, Vaarala O, Kokkonen
J..Cow milk is not responsible for most
gastrointestinal immune-like syndromes--evidence
from a population-based study. Am J Clin Nutr. 2005
Dec;82(6):1327-35.
4. Kaczmarski M, Wasilewska J, Lasota
M..Hypersensitivity to hydrolyzed cow's milk protein
formula in infants and young children with atopic
eczema/dermatitis syndrome with cow's milk protein
allergy. Rocz Akad Med Bialymst. 2005;50:274-8..
5. Axelsson I, Jakobsson I, Lindberg T, Benediktsson
B: Bovine beta-lactoglobulin in the human milk. A
longitudinal study during the whole lactation
period. Acta Paediatr Scand 1986 Sep; 75(5): 702-7.
6. Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal
migraine and food sensitivity in children. Clinical
Allergy 1984;14:499-500.
7. .Blackshaw AJ, Levison DA: Eosinophilic
infiltrates of the gastrointestinal tract. J Clin
Pathol 1986 Jan; 39(1): 1-7.
8. Bock SA: Evaluation of IgE-mediated food
hypersensitivities. J Pediatr Gastroenterol Nutr
2000; 30 Suppl: S20-7.
9. Carroccio A, Montalto G, Custro N, et al:
Evidence of very delayed clinical reactions to cow's
milk in cow's milk-intolerant patients. Allergy 2000
Jun; 55(6): 574-9.
10. Costa M, Brookes SJ. The enteric nervous system.
Am J Gastroenterol 1994;89:S29-137.
11. Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive
Child
12. Dupont C, Heyman M: Food protein-induced
enterocolitis syndrome: laboratory perspectives. J
Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S50-7.
13. Goyal RK, Hirano I. The enteric nervous system.
N Engl J Med 1996;334:1106-1115.
14. Hall K. Allergy of the nervous system : a review
Ann Allergy 1976 Jan;36(1):49-64.
15. Hill DJ, Heine RG, Cameron DJ: The natural
history of intolerance to soy and extensively
hydrolyzed formula in infants with multiple food
protein intolerance. J Pediatr 1999 Jul; 135(1):
118-21.
16. INTERNATIONAL CONGR. Effects on Stool
Characteristics, Gastrointestinal Manifestation and
Sleep Pattern ESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST
15TH – 20TH ,2004.
17. Judarwanto W. Effects on Stool Characteristics,
Gastrointestinal Manifestation and Sleep Pattern of
Palm Olein in Formula-fed Term Infants” 24TH
INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO
AUGUST 15TH – 20TH ,2004
18. Judarwanto W. Dietery Intervention as a Therapy
for Behaviour Problems in Children with
Gastrointestinal Iacono G, Cavataio F, Montalto G:
Intolerance of cow's milk and chronic constipation
in children. N Engl J Med 1998 Oct 15; 339(16):
1100-4.
19. Judarwanto W. Using Nutrient Dense in Children
with Gastroenterointestinal Allergies” 24TH Allergy.
World Congress Pediatric Gastroenterology Hepatology
and Nutrition tanggal 2 – 7 Juli 2004 di Paris
Perancis.
20. Judarwanto W. Dietery Intervention as a therapy
for Sleep Difficulty in Children with
Gastrointestinal Allergy”. 24TH INTERNATIONAL
CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH –
20TH ,2004.
21. Kelly KJ: Eosinophilic gastroenteritis. J
Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S28-35.
22. Kelly KJ, Lazenby AJ, Rowe PC: Eosinophilic
esophagitis attributed to gastroesophageal reflux:
improvement with an amino acid-based formula.
Gastroenterology 1995 Nov; 109(5): 1503-12.
23. Kokkonen J, Karttunen TJ, Niinimaki A:
Lymphonodular hyperplasia as a sign of food allergy
in children. J Pediatr Gastroenterol Nutr 1999 Jul;
29(1): 57-62.
24. Kokkonen J, Haapalahti M, Laurila K, et al:
Cow's milk protein-sensitive enteropathy at school
age. J Pediatr 2001 Dec; 139(6): 797-803.
25. Lake AM: Food-induced eosinophilic
proctocolitis. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30
Suppl: S58-60.
26. Lake AM, Whitington PF, Hamilton SR: Dietary
protein-induced colitis in breast-fed infants. J
Pediatr 1982 Dec; 101(6): 906-10.
27. Liacouras CA, Ruchelli E: Eosinophilic
esophagitis. Curr Opin Pediatr 2004 Oct; 16(5):
560-6.
28. Lindberg T: Infantile colic: aetiology and
prognosis. Acta Paediatr 2000 Jan; 89(1): 1-2.
29. Lowichik A, Weinberg AG: A quantitative
evaluation of mucosal eosinophils in the pediatric
gastrointestinal tract. Mod Pathol 1996 Feb; 9(2):
110-4.
30. Novembre E, Vierucci A: Milk allergy/intolerance
and atopic dermatitis in infancy and childhood.
Allergy 2001; 56 Suppl 67: 105-8.
31. Sampson HA, Anderson JA: Summary and
recommendations: Classification of gastrointestinal
manifestations due to immunologic reactions to foods
in infants and young children. J Pediatr
Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S87-94.
32. Walker WA: Cow's milk protein-sensitive
enteropathy at school age: a new entity or a
spectrum of mucosal immune responses with age. J
Pediatr 2001 Dec; 139(6): 765-6.
33. Vaughan TR. The role of food in the pathogenesis
of migraine headache. Clin Rev Allergy
1994;12:167-180.
34. Overview Allergy
Hormone.Htpp://www.allergycenter/allergy Hormone.
35. Allergy induced Behaviour Problems in children.
Htpp://www.allergies/wkm/behaviour:
36. Brain allergic in
Children.Htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.
(Sumber: www.pdpersi.co.id)
Setiap orang tua selalu mengharapkan kelak anaknya
dapat tumbuh berkembang dengan baik,
cerdas
dan berprestasi.
 
Suara Terapi Musik
Klasik untuk
Ibu Hamil dan Bayi
Artikel pilihan untuk
Ibu Hamil, Bayi dan Balita
"...every baby is
future... (...setiap anak adalah masa depan...)
Berikan
yang
terbaik
untuk si buah hati..."
 |